Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Khitan yang dalam bahasa medis disebut sirkumsisi adalah tindakan memotong kulub (preputium penis secara melingkar.  Tujuan dari tindakan ini adalah alasan adat, keagamaan dan kesehatan. Alasan lesehatan tindakan ini antara lain:

  1. Agar penis bersih. Pada pria yang tidak disirkumsisi akan terkumpul smegma yaitu kotoran diantara kulub dengan kepala penis. Kotoran ini sangat baik untuk tumbuhnya bakteri yang dapat mengakibatkan infeksi. Infeksi pada kulub (preputium penis) disebut phostitis. Infeksi ini jika berlanjut akan menyebar hingga ke kepala penis disebut balanophostitis. Infeksi yang berlanjut dapat mengakibatkan lubang kencing yang disebut meatal stenosis. Kasus kanker penis sangat tinggi pada pria yang tidak dikhitan .
  2. Pada pasien fimosis dan parafimosis.  Fimosis adalah keadaan dimana kulub tidak dapat ditarik hingga kepangkal leher penis. Tidak semua grade fimosis perlu dikhitan, perlu dikhitan jika kencing tidak lancar/tersumbat karenanya. Selain itu, pasiem fimosis perlu dikhitan jika terjadi infeksi daluran kencing. Tindakan khitan dilaksanakan setelah infeksi ditangani/disembuhkan. Parafimosis adalah keadaan dimana kulub tidak dapat ditarik untuk menutup kepala penis. Keadaan ini berbahaya, jika terjadi lama maka kepala penis terjerat dan membusuk karena aliran darah tidak lancar.

Khitan tidak boleh dilakukan pada pasien hipospadia. Hipospadia adalah keadaan dimana lubang kencing tidak diujung penis. Dalam bahasa awam “sudah khitan sejak lahir” atau dikhitan hantu/jin. Mengapa pada keadaan ini  tidak boleh dikhitan? Karena kulit kulub yang dibuang saat khitan akan digunakan untuk membuat saluran kencing agar berada diujung penis.

Keadaan gangguan pembekuan darah perlu diperhatikan sebelum khitan. Jika keadaan ini terjadi maka sebaiknya khitan dilakukan oleh urolog.

Khitan telah dilakukan sejak zaman prasejarah. Meskipun demikian, lhitan yang dilakukan oleh tenaga non medis sering bukan sirkumsisi, tetapi hanya dorsumsisi. Perbedaan mendasar antara dorsumsisi dan sirkumsisi adalah: dorsumsisi hanya memotong sebagian kulub sisi dorsal sedang bagian preputium tidak dipotong. (bagian yang menghubungkan antata kulub dan kepala penis tidak dipotong, sebingga akan tampak menggelambir setelah dorsumsisi). Tindakan ini dahulu dilakukan karena pada daerah preputium terdapat banyak pembuluh darah dan dapat terjadi pendarahan. Dengan kemajuam pengetahuan, control pendarahan dapat dilakukan, sehingga sebaiknya dilakukan sirkumsisi.

Tindakan sirkumsisi diawali dengan pembiusan. Pembiusan dapat dengan bius umum ataupun bius local. Tehnik bius umum sangat membantu terutama pada anak kecil yang tidak kooperatif. Bius local dapat dilakukan dengan blok, infiltrasi ataupun semprot.

Ada berbagai cara memotong kulub (preputium penis). Tehnik tradisional sering menggunakan benda tajam yang tidak steril, contohnya bilah bambu, ataupun pisau tidak steril. Tehnik ini sering dilakukan dukun. Dengan menggunakan alat yang tidak steril maka kemungkinan untuk terjadi infeksi di luka sayatan sangat besar. Infeksi dapat merambat/meluas.

Pada sekitar tahun 1900 awal diperkenalkanlah Gonco klem. Tehnik ini pada dasarnya adalah menghambat aliran darah ke ujung kulub. Dengan terhambatnya aliran darah maka pendarahan saat khitan sangat sedikit.

Pada awalnya Gomco klem terbuat dari logam sehingga relatif berat dan tidak nyaman. Seiring dengan perkembangan jaman Gomco klem mulai diproduksi dari bahan plastik. Klem plastik ini sangat banyak diproduksi dari China. Dengan terbuat dari plastik, klem ini ringan dan sangat murah. Bentuk sangat bervariasi, yang intinya adalah menghambat aliran darah ke ujung kulub. Perkembangan tehnik juga terjadi. Dahulu, kulub tidak dipotong dan hanya diklem saja. Dengan di klem saja maka kulub akan tidak mendapat darah dan lambat laun akan mati, tetapi jaringan yang mati akan banyak. Perkembangan berikutnya, Gomco klem dipasang, dan saat itu juga dipotong ujung kulubnya. Dengan cara ini perdarahan akan minimal. Keuntungan tehnik ini adalah pendarahan yang sangat minimal. Kelemahan tehnik ini adalah terjadinya jaringan mati yang merupakan tempat berkembang biaknya kuman, penyembuhan akan relatif tidak baik. Penyembuhan tidak baik karena luka tidak dipotong tajam, sehinga jaringan parut akan luas. Jaringan parut luas yang lambat laun akan mencekam ujung penis. Ada kemungkinan kepala penis akan mengecil di masa datang.

Tehnik dengan elektrocauter. Dengan elektrokauter pendarahan akan minimal, tetapi luka yang dibentuk adalah luka bakar listrik. Jaringan parut yang terjadi akan banyak. Banyak oknum yang mengkhitan dengan cara ini mengiklankan kepada pasien sebagai khitan laser. Untuk membedakah apakah benar khitan laser ataupun elektrokauter.

Electrocauter Laser
Jaringan parut luas Jaringan parut minimal
Penyembuhan lama karena banyak jaringan rusak, pembuluh darah kecil rusak Jaringan yang rusak hanya pada bagian yang terkena “kepala” laser
Tepian luka relatif kurang rata Tepi luka rata
Harga relatif murah Harga mahal

 

Khitan dengan laser memang sangat ideal, tetapi tehnik ini memiliki kendala utama yaitu mahal. Alat untuk laser sekitar 1 milyar dan handpiece sekitar 9 juta. Satu handpiece dapat digunakan untuk 6 pasien dengan resterilisasi. Sehingga alat ini hanya akan dimiliki oleh rumah sakit besar. Perkiraan tarif khitan ini minimal 12 jutaan. Jika tarif jauh dibawah nilai tersebut kita dapat mencurigai apakah benar laser, ataukah mungkin rumah sakit masih memberikan subsidi? Khitan laser sangat berguna untuk pasien hemofilia dan gangguan pembekuan darah lainnya.

Tehnik yang menjadi standar saat ini menggunakan pisau bedah dan gunting bedah yang sangat tajam. Dengan alat tersebut tepi luka halus/rata dan kerusakan jaringan hanya pada jaringan yang terkena pisau. Dengan kerusakan jaringan dan pembuluh darah kecil maka jaringan parut sangat sedikit dan penyembuhan akan cepat. Pendarahan akan terjadi. Kontrol perdarahan dilakukan dengan mengikat pembuluh darah dengan benang operasi khusus.

About these ads