Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sistoskopy atau cystoscopy berasal dari kata cysto (kandung kemih) dan scopein (melihat) adalah suatu tindakan bedah yang bertujuan untuk melakukan penilaian kandung kencing, bladder neck, protrusi prostat dan verumontanum. Tindakan dapat dilakukan dengan pembiusan ataupun dengan anestesi lokal.

Secara tehnis pasien dilakukan dalam posisi litotomi. Kemudian dimasukkan jeli larut air sekitar 10 cc ke uretra. Kemudian sheath dimasukkan secara gentle ke vesica urinaria. Buli dikembangkan secara optimal dengan mengisikan sterilized water for irrigation sekitar 350 cc. Saat sistoskopi dilakukan penilaian, dengan hasil minimal:

  1. apakah bladder neck tinggi?
  2. adakah protrusi lobus medius?
  3. apakah mukosa buli hiperemis?
  4. adakah trabekulasi otot detrusor buli? jika ada apakah ringan, sedang ataukah berat?
  5. adakah saculasi dan divertikel buli? jika ada dimana?
  6. adakah masa/tumor? deskripsikan bentuk apakah papiler, pedunculated, velvety, cancerous? apakah rapuh? berada dimanakah tumor tersebut? apakah rapuh?
  7. adakah batu?
  8. apakah kedua muara ureter teridentifikasi? apakah terdorong oleh masa? tipe muara ureter juga harus disebutkan. Ataukah muara ureter tidak teridentifikasi karena tertutup lobus medius?
  9. Seberapa panjangkah Kissing lobe prostat?
  10. bagaimanakah verumontanum?
  11. berapakah perkiraan volume kandung kencing?

Sebaiknya laporan sistoscopi dilengkapi dengan gambar.

Resiko tindakan sistoscopi antara lain:

  1. urosepsis, jika terjadi refluks pada pasien dengan urine terinfeksi. Kondisi akan lebih berat jika terdapat vesicoureteral refluks.
  2. perforasi (berlubangnya) kandung kencing.
  3. perforasi bladder neck.
  4. perforasi urethra.
  5. trauma uretra yang dapat berakibat striktur uretra dimasa datang, meskipun semua resiko ini amat sangat jarang terjadi, tetapi tetap harus disampaikan kepada pasien.