Tag

, , , , , , , , , , , ,

BPH dengan Gangguan SyarafInformed Consent

Seseorang dapat kencing jika otot kandung kencing  kuat untuk memeras kencing dan saluran dibawahnya tidak terdapat hambatan.

Otot kandung kencing dapat memeras dengan baik jika kualitas otot baik dan persyarafan kandung kencing  juga baik. Kualitas otot kandung kencing yang tidak baik contohnya pada kandung kencing yang terdapat banyak jaringan parut bekas luka ataupun adanya divertikel (yaitu suatu tonjolan di kandung kencing yang tidak memiliki lapisan otot). Seandainya kualitas otot kandung kencing tidak baik, maka sebaik apapun syaraf yang menuju kandung kencing tidak akan mampu menggerakkan kandung kencing untuk memeras dengan baik.

Kandung kencing dapat memeras kencing jika mendapat perintah memeras kencing. Perintah kencing berasal dari otak, menuju kandung kencing melalui syaraf. Jika stroke menyerang pusat kencing maka perintah untuk kencing tidak baik atau bahkan tidak dapat dibuat.

Pada seseorang yang mengalami  kelainan tulang belakang, riwayat trauma tulang belakang, lumpuh, riwayat operasi di daerah panggul dan diabetes mellitus,dapat mengalami tidak dapat kencing. Hal ini karena syaraf yang membawa perintah kencing dari otak mungkin putus/terganggu. Jika hal ini terjadi maka kandung kencing tidak dapat memeras kencing. Sehingga kencing tidak dapat keluar meskipun jalur dibawahnya lancar.

Diabetes mellitus atau yang sering dikenal sebagai sakit gula memberikan kerusakan yang parah dan beraneka pada tubuh penderitanya. Kadar gula yang tinggi dapat merusak syaraf (yang dalam bahasa medis disebut neuropati diabetic). Kerusakan syaraf  dapat mengakibatkan syaraf tidak dapat menghantarkan pesan dari otak dengan baik. Jika syaraf yang terkena adalah syaraf pembawa pesan untuk kencing, maka pesan itu tidak sampai, sehingga otot tidak dapat menindak lanjuti perintah tersebut.

BPH atau pembesaran prostat jinak adalah salah satu contoh gangguan saluran dibawah kandung kencing. Jika terjadi pembesaran maka aliran kencing  terhambat. Tersumbat atupun tidaknya aliran kencing tergantung dari besar kekuatan memeras kandung kencing dikurangi hambatan saluran dibawahnya. Contohnya jika kandung kencing memiliki kemampuan memeras 100 dan hambatan dibawahnya 80 maka pasien dapat kencing tetapi dengan aliran yang lambat. Contoh lainnya, jika kekuatan pompa kandung kencing 100 dan hambatan dibawahnya 110 maka pasien tidak dapat kencing sebelum sumbatan dibawahnya dikurangi atau dihilangkan.

Pada riwayat stroke, kelainan tulang belakang, riwayat trauma tulang belakang, lumpuh, riwayat operasi di daerah panggul dan diabetes mellitus, kekuatan kandung kencing untuk memeras mungkin berkurang dibanding normal. Misalkan kekuatan seharusnya 100 sekarang menjadi 70.  Hal ini akan sangat berpengaruh dapat tidaknya pasien kencing setelah diperhitungkan dengan besarnya hambatan dibawahnya.

Contoh dalam kasus adalah: jika kekuatan kandung kencing 0 (nol) dan terdapat pembesaran prostat yang menimbulkan hambatan 10, maka pasien tetap tidak dapat kencing meskipun prostat telah diangkat.  Contoh lainnya seseorang memiliki kemampuan kandung kencing untuk memeras 70, mengalami pembesaran dan menyebabkan hambatan sebesar 80. Maka pasien tersebut akan dapat kencing setelah prostat diangkat.

Untuk menilai seberapa besar kekuatan kandung kencing dan hambatan dibawahnya menggunakan alat urodinamik. Alat tersebut belum ada di rumah sakit ini sehingga tidak dapat dikerjakan.

Pasien yang tidak dapat kencing akibat pembesaran prostat dengan riwayat stroke, kelainan tulang belakang, riwayat trauma tulang belakang, lumpuh, riwayat operasi di daerah panggul dan diabetes mellitus, kami sarankan tetap menjalani operasi pengangkatan prostat. Dengan operasi pengankatan prostat diharapkan hambatan dibawah kandung kencing turun, sehingga meskipun kekuatan kandung kencing menurun pasien dapat kencing. Tentu saja bagi pasien dengan kekuatan kandung kencing yang sangat kecil/mendekati nol akan tetap tidak dapat kencing meskipun prostat telah diangkat.