Tag

, , , , , , , , ,

Pasien kedua saya yang saya operasi setelah lulus dari pendidikan urologi adalah fimosis.

Seorang anak laki laki usia 4,5 tahun datang dengan diantar oleh kedua orang tuanya. Sejak 2 hari sebelumnya pasien tidak dapat kencing, penis/celana di dekat penis selalu basah oleh air kencing. Ibu pasien ini sudah mengetahui sejak beberapa minggu sebelumnya, tetapi dia tidak menghiraukannya oleh karena si anak tidak mengeluh. Sejak beberapa bulan (? tidak jelas sudah berapa bulan) sebelumnya anak ini berlari lari kecil/berputar putar saat akan kencing. Anak ini aktif, tidak demam dan tidak kesakitan.

Sekitar 6 bulan sebelumnya, anak ini mengalami infeksi kulub (dalam bahasa medis disebut phostitis). Oleh ayah dari anak ini diberikan salep kortikosteroid (? tidak jelas merk nya) setelah si ayah membaca literatur di internet. Riwayat infeksi saluran kencing berulang disangkal. Demam berulang dan kencing keruh juga disangkal. Sejak lebih dari 7 bulan sebelumnya jika kencing pancaran kecil tetapi jauh.

Ketika saya lakukan pemeriksaan tampak kulub benar-benar menutup. Kulub tidak dapat saya tarik ke belakang kepala penis.  Lubang penis tidak dapat tampak.

Ketika saya periksa kandung kencing, wowoww penuh. saat saya beri ketukan kencing keluar dari ujung penis. Saat saya sentuh si anak menangis dan meronta -ronta.  kasihan bener ni adek….

Karena saya curiga pasien ini sudak tidak kencing lama, saya berfikir apakah ada kelainan ginjal ataupun adanya batu di kandung kencing saya putuskan untuk melakukan USG.

Dari USG saya ketahui bahwa kandung kencing penuh, tidak saya temukan adanya bayangan batu di kandung kencing. USG ginjal menunjukkan adanya hidronefrosis ringan ginjal kiri (ginjal si adek sudah terendam kencing).

Saya berfikir: anak ini harus segera di khitan/sirkumsisi kalau tidak maka fungsi ginjal anak bisa terganggu/gagal ginjal.

Dengan susah payah mempersiapkan tim kamar operasi danperalatan pendukungnya. Maklum pasien datang sudah jam 11 an.

Pasien saya khitan dengan lancar.

Setelah 5 hari pasien datang untuk kontrol. Alhamdulillah dapat kencing lancar, deras. Celana sudah tidak basah seperti sebelum di khitan.

HIKMAH YANG KITA AMBIL:

seorang dokter harus memeriksa dengan cermat dan memperhitungkan tindakan. mungkin banyak orang berfikir, masa khitan kok masuk tindakan gawat darurat… Fikiran ini mungkin benar, tetapi mungkin sangat salah. Fikiran ini salah jika karena fimosis tersebut seseorang tidak dapat kencing dengan baik maka harus segera di khitan. Seandainya tidak di khitan maka dapat terjadi kerusakan ginjal.